Surat ini benar-benar menyentuh hati saya. ketika membaca tulisan ini
saya merasa trenyuh dan larut dalam suasana haru. Terbayang wajah ibu
saya, yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan dengan penuh
kasih sayang. Ibu adalah yang terbaik bagiku. Tak pernah ada kata tidak
untuk kami anak-anaknya ketika meminta sesuatu. Semoga Allah membalas
kebaikan ibu dengan pahala yang besar. Semoga Allah senantiasa
membimbing dan memberi petunjuk kepada saya untuk selalu memperlakukan
ibu dengan baik serta mengasihinya sebagaimana ibu mengasihi kami,
anak-anaknya.
Robbigh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii soghiiroo
Silahkan dibaca …………..
Assalamu’alaikum,
Segala
puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu
untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para
sahabatnya. Amin…
Wahai anakku,
Surat ini datang dari
Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu
mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa
malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores
tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata
setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa
yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki
dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca
tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau
merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah
engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah
berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam
kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang
kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut.
Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah
awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira
tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam
kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih
sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku
mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan
dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat terjangan
kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku
menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku,
berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang
berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam
itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap
pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang
tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga
membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat
kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau
keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu,
air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan
kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu
semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu
sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu
tetes air yang ada di kerongkonganku.
Wahai anakku… telah berlalu
tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan
kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku
tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku
pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap
saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu
untukmu… itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari
berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu
pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi
dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak
pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq
untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga
engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan
jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu.
Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari
pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat
pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris,
air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur
dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena
engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan
berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya
dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal
dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan,
sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan
malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah
tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening,
dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi
karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama
hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi
detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian
kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk
melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku
manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon
berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara
kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan
tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur
berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan
dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri
dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu
ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang
bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam
kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di
rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula
dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu,
Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau
buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!
Yang Ibu
tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat
persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun
hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak
pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil
engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah
bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah
dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya
dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu
masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering.
Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engkau
dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas
kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas
budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas
dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan
engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman,
“Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar
Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah
dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai
anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu,
setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah
buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah
laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga
engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf
dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku
berbuat lalai dalam melayanimu?
Terus, jika tidak demikian,
sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang
paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah
mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!
Dapatkah
engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan
kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi
mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala
mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai
anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal
afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki
supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap
seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang
tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan
kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi
hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena
engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau
telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam
jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali
silaturrahim?!
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga
bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan
senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku
bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana
dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya
engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)
Anakku.
Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah
beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga
begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat
berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan
bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang
terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu
bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu
Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling
mulia? Beliau berkata: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian
apa, wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Berbakti kepada kedua orang
tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab,
“Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi,
niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)
Wahai
anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk
memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau
mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan
anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang
emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa
pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya.
Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya,
tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar.
Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya
orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan
kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak,
tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di
sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu.
Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah
kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku
takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah
seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai
Rasulullah?, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan
tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)
Anakku… Aku tidak
akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada
Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan,
melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan
kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat
menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan
melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini
kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur
laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab,
padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak!
Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau
akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan
memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau
nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan
air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula
kepadamu.
Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu,
peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya,
balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan
badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat
ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau
ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu
[Diketik ulang dari buku ‘Kutitip Surat Ini Untukmu’ karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc]
Selasa, 27 Agustus 2013
Kamis, 10 Januari 2008
Gimana sih cara ngertiin cowok?
Tulisan berikut ini di tujukan buat cewek, tapi para cowok wajib ikutan baca biar tahu apa yang ada dalam benak cewek.
Emosi dan pikiran cowok memang berbeda dari cewek. Dalam hal pacaran, kebutuhan cowok dan cewek juga berbeda loh. Wajar dong kalo cewek jadi sering kesulitan memahami kepribadian cowok. But don't worry, meski berbeda bukan berarti nggak mungkin bisa memahami.
Cowok tuh pengennya dipercaya, diterima, dihargai, dikagumi, dan didukung. Jelas hal ini beda banget dengan cewek yang mengutamakan perhatian, pengertian, kesetiaan, penghormatan, dan penegasan. Sebagai contoh, seorang cewek berkali-kali mengingatkan cowoknya agar memotong rambutnya yang gondrong. Di masa awal pacaran, perintah semacam itu biasanya diterima dan dikerjakan dengan senang hati oleh si cowok. Tapi lama-lama, si cowok bakal ogah memotong rambutnya saaat rambutnya mulai gondrong lagi, meski si cewek berulangkali menyuruhnya. Mengapa hal semacam itu terjadi? Simple aja, si cowok lama-lama merasa dirinya nggak dipercaya dan nggak diterima apa adanya oleh si cewek. Padahal 'kan maksud tuh cewek baik banget, biar cowoknya nggak miara kutu dan ketombe di rambut gondrongnya. Nah hal-hal semacam itu rawan banget menimbulkan konflik.
Nah, kalo cowok tiba-tiba jadi pendiam dan sering melamun, jangan buru-buru curiga. Eh, siapa tahu doi lagi ada masalah. Biarkan doi berdiam diri sementara waktu.
Cara cowok menghadapi masalah beda dengan cewek. Cowok lebih suka merenungkan masalahnya sendirian sementara cewek lebih senang membicarakannya.
Cewek nggak sungkan-sungkan menangis kalo lagi sedih. Cowok ? Mereka jelas bakal dicela abis kalo ketahuan nangis. Sejak dulu, cowok dikondisikan sebagai 'pejatan tangguh' mirip lagu SO7, padahal kenyataaannya nggak pasti begitu. Jadi, jangan buru-buru mencela kalo melihat cowokmu menitikkan air mata, sebab di balik perbedaan sifat, semua manusia itu pada dasarnya sama : Tertawa bila bahagia, menangis bila merana !
Dan meski hati terasa puuuuuaaanaaas buangeeeet melihat sikap cowok yang tiba-tiba berubah, janganlah bertanya dengan nada 'menyerang'. Janganlah mengeluarkan kata-kata, "Kamu udah nggak sayang lagi sama aku?" atau "Koq diem melulu lu, lu punya gebetan baru ya? Belegug sia!" Kata-kata itu membiuat orang merasa dipojokkan dan tersinggung. Mendingan gunakan kata-kata sederhana semacam ini, "Ada apa sih sebenarnya, jangan bikin gue bingung dong," atau "Aku siap koq dengerin omongan kamu kapan aja kamu mau ngomongin. Aku ingin kamu tahu, aku selalu siap jadi tempat curhat bagi kamu."
Ingatlah saaat yang tepat untuk berkomunikasi. Cari waktu saat kalian berada dalam suasana santai, jauh dari kerumunan orang dan sumber kebisingan lainnya. Selain mencoba saling memahami pikiran dan perasaan masing-masing, kedua belah pihak juga harus mengungkapkannya sejelas mungkin.
Terakhir, tulisan ini memang nggak menjelaskan semua cara cewek untuk memahami cowoknya. Tapi sebagian merupakan pengalaman yang sudah dialami oleh penulis,,,hehehhe,,,,Sorry banget ,ok?!?!
Emosi dan pikiran cowok memang berbeda dari cewek. Dalam hal pacaran, kebutuhan cowok dan cewek juga berbeda loh. Wajar dong kalo cewek jadi sering kesulitan memahami kepribadian cowok. But don't worry, meski berbeda bukan berarti nggak mungkin bisa memahami.
Cowok tuh pengennya dipercaya, diterima, dihargai, dikagumi, dan didukung. Jelas hal ini beda banget dengan cewek yang mengutamakan perhatian, pengertian, kesetiaan, penghormatan, dan penegasan. Sebagai contoh, seorang cewek berkali-kali mengingatkan cowoknya agar memotong rambutnya yang gondrong. Di masa awal pacaran, perintah semacam itu biasanya diterima dan dikerjakan dengan senang hati oleh si cowok. Tapi lama-lama, si cowok bakal ogah memotong rambutnya saaat rambutnya mulai gondrong lagi, meski si cewek berulangkali menyuruhnya. Mengapa hal semacam itu terjadi? Simple aja, si cowok lama-lama merasa dirinya nggak dipercaya dan nggak diterima apa adanya oleh si cewek. Padahal 'kan maksud tuh cewek baik banget, biar cowoknya nggak miara kutu dan ketombe di rambut gondrongnya. Nah hal-hal semacam itu rawan banget menimbulkan konflik.
Nah, kalo cowok tiba-tiba jadi pendiam dan sering melamun, jangan buru-buru curiga. Eh, siapa tahu doi lagi ada masalah. Biarkan doi berdiam diri sementara waktu.
Cara cowok menghadapi masalah beda dengan cewek. Cowok lebih suka merenungkan masalahnya sendirian sementara cewek lebih senang membicarakannya.
Cewek nggak sungkan-sungkan menangis kalo lagi sedih. Cowok ? Mereka jelas bakal dicela abis kalo ketahuan nangis. Sejak dulu, cowok dikondisikan sebagai 'pejatan tangguh' mirip lagu SO7, padahal kenyataaannya nggak pasti begitu. Jadi, jangan buru-buru mencela kalo melihat cowokmu menitikkan air mata, sebab di balik perbedaan sifat, semua manusia itu pada dasarnya sama : Tertawa bila bahagia, menangis bila merana !
Dan meski hati terasa puuuuuaaanaaas buangeeeet melihat sikap cowok yang tiba-tiba berubah, janganlah bertanya dengan nada 'menyerang'. Janganlah mengeluarkan kata-kata, "Kamu udah nggak sayang lagi sama aku?" atau "Koq diem melulu lu, lu punya gebetan baru ya? Belegug sia!" Kata-kata itu membiuat orang merasa dipojokkan dan tersinggung. Mendingan gunakan kata-kata sederhana semacam ini, "Ada apa sih sebenarnya, jangan bikin gue bingung dong," atau "Aku siap koq dengerin omongan kamu kapan aja kamu mau ngomongin. Aku ingin kamu tahu, aku selalu siap jadi tempat curhat bagi kamu."
Ingatlah saaat yang tepat untuk berkomunikasi. Cari waktu saat kalian berada dalam suasana santai, jauh dari kerumunan orang dan sumber kebisingan lainnya. Selain mencoba saling memahami pikiran dan perasaan masing-masing, kedua belah pihak juga harus mengungkapkannya sejelas mungkin.
Terakhir, tulisan ini memang nggak menjelaskan semua cara cewek untuk memahami cowoknya. Tapi sebagian merupakan pengalaman yang sudah dialami oleh penulis,,,hehehhe,,,,Sorry banget ,ok?!?!
Sabtu, 08 Desember 2007
A Light
Manusia berjalan menyusuri tanah berkerikil..
Terkadang mulus..
Tetapi suatu waktu tersandung..
Mata tak dapat melihat dalam kegelapan
Mulut tak lagi teriak dalam kebisuan
Hidung tak lagi dapat merasakan harumnya padang rumput
Telinga pun tak mendengar ditengah kegundahan
Sepasang tangan-tangan terjulur
Memberikan kasih serta kelembutannya
Menuntun..keluar dari kerikil tajam
Seketika hati luluh dan berhenti mengaduh
Merasakan harapan telah berlabuh
A light is not just a fire,
Not just a candle..
Terkadang mulus..
Tetapi suatu waktu tersandung..
Mata tak dapat melihat dalam kegelapan
Mulut tak lagi teriak dalam kebisuan
Hidung tak lagi dapat merasakan harumnya padang rumput
Telinga pun tak mendengar ditengah kegundahan
Sepasang tangan-tangan terjulur
Memberikan kasih serta kelembutannya
Menuntun..keluar dari kerikil tajam
Seketika hati luluh dan berhenti mengaduh
Merasakan harapan telah berlabuh
A light is not just a fire,
Not just a candle..
Kamis, 06 Desember 2007
I Wanna Sleep for a Very Long Time
"Tiada gading yang tak retak" kata yang pernah disampaikan padaku lewat mimpi ketika saat berumur 5thn. Mungkin hanya kiasan biasa yang sering didengar oleh orang-orang. Tapi bagiku sangat janggal, sedangkan pada saat itu aku sama sekali tidak tahu artinya. Memang tidak ada manusia yang sempurna, malah tidak ada sesuatu pun yang sempurna..bahkan Tuhan telah memberikan makhluknya kelebihan maupun kekurangan. Itu pun yang kurasakan bersamaan dengan mengalirnya waktu...
Bersyukurlah atas kelebihan yang Tuhan berikan..tapi apa kita harus menangisi kekurangan yang kita dapatkan?? Atau kita harus menerima itu semua dengan lapang dada?? Tapi itu tidak adil bagiku..kekurangan yang aku punya yang mungkin adalah kelebihan bagi orang lain..sesuatu yang kecil bagi orang lain, sesuatu yang biasa bagi orang lain..tapi untuku itu sesuatu yang besar artinya.
"Don't judge a book by it's cover"..and don't judge me by my own cover.. Apa yang kalian lihat dimukaku, di senyumku, u'll never know what deep inside.. Wajah ini menipu..yang ada hanya senyum tulus untuk kalian, perasaan kasih sayang untuk kalian..
Saat ini..lelah telah menerpa..
I wanna sleep for a very long time, until someone wake me up and say "it was just a dream"..
Bersyukurlah atas kelebihan yang Tuhan berikan..tapi apa kita harus menangisi kekurangan yang kita dapatkan?? Atau kita harus menerima itu semua dengan lapang dada?? Tapi itu tidak adil bagiku..kekurangan yang aku punya yang mungkin adalah kelebihan bagi orang lain..sesuatu yang kecil bagi orang lain, sesuatu yang biasa bagi orang lain..tapi untuku itu sesuatu yang besar artinya.
"Don't judge a book by it's cover"..and don't judge me by my own cover.. Apa yang kalian lihat dimukaku, di senyumku, u'll never know what deep inside.. Wajah ini menipu..yang ada hanya senyum tulus untuk kalian, perasaan kasih sayang untuk kalian..
Saat ini..lelah telah menerpa..
I wanna sleep for a very long time, until someone wake me up and say "it was just a dream"..
Langganan:
Komentar (Atom)
